Rabu, 17 Agustus 2016

Selama Mandiri dan Sukses, Salahkah Jika Lulusan Sarjana Bekerja Biasa-Biasa Saja?




Kerja itu tak harus kantoran...

Febriyanti Revitasari Published by Febriyanti Revitasari 2 April 2016

Saat ini, bekerja kantoran merupakan kecenderungan banyak lulusan sarjana. Bekerja kantoran menawarkan banyak keuntungan. Mulai dari jenjang karir, tunjangan, fasilitas dan yang terakhir adalah gengsi. Tak mengherankan apabila mereka yang tak bekerja kantoran, sering dianggap bermasa depan kurang cerah. Tapi selama kita bisa membuktikan bahwa kita mandiri dan sukses, salahkah lulusan sarjana bekerja biasa-biasa saja?
Banyak pilihan untuk seorang sarjana begitu harus berkarir.


Pilihan karir tidak selalu bekerja di kantor atau perusahaan.
Kita mengenal wirausaha dan freelance. Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentunya, setiap orang memiliki kemerdekaan dan kematangan pikirannya masing-masing untuk memilih.
Ada yang memilih bekerja di kantor dengan delapan jam kerja atau lebih. Ini wajar.


Kebanyakan sarjana memang memilih lapangan kerja yang bersifat kantoran. Seperti yang sudah dikatakan di awal, bekerja kantoran mungkin melelahkan dan terikat waktu. Namun, kontraprestasi yang diberikan juga menggiurkan. Wajar jika ini banyak dipilih. Apalagi tidak semua sarjana dapat langsung berwirausaha dengan keterbatasan modal.
Tapi, ada pula yang cukup bekerja dari rumah, tanpa aturan waktu yang ketat.


Di balik itu semua, ada yang tetap kukuh tidak bekerja di kantor. Sebut saja ibu rumah tangga, wirausahawan pemula, dan pekerja lepas (freelance). Mereka dapat menjalankan tugasnya di rumah atau di mana pun mereka berada. Meski tidak mendapat sejumlah keuntungan yang menggiurkan, waktu yang leluasa adalah prioritas utama mereka.
Namun, kita tidak berhak memandang rendah orang yang tidak bekerja kantoran.


Meski kelihatannya tidak segengsi yang bekerja kantoran, kita tidak boleh memandang rendah mereka yang tidak bekerja di kantor. Di saat pekerja sibuk dengan deadline, mereka yang tidak bisa berlibur kapan saja. Ketika sebuah perusahaan membutuhkan tenaga tertentu, kadang mereka yang tidak terikat kerja kantoran lebih dibutuhkan dibandingkan dengan pekerja fulltime.

Baca Juga: Salahkah Aku, Seorang Sarjana yang Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga?
Kelihatannya saja mereka kurang rapi dan tidak sibuk. Tapi percayalah mereka punya tanggung jawab yang sama, bahkan lebih.


Seorang ibu rumah tangga, misalnya. Ia bertanggung jawab membesarkan anak, mengurus suami, dan membereskan pekerjaan rumah sekaligus. Pekerjaan tersebut tidak lagi dilakukan delapan jam kerja, tapi 24 jam. Seorang pekerja lepas harus menawarkan dirinya ke beberapa klien sekaligus. Dampaknya, dalam sehari ia melakukan pekerjaan lebih dari delapan jam. Terutama ketika deadline datang. Sedangkan seorang wirausaha bisa bekerja seharian untuk membuat konsep bisnis, menemui pelanggan yang meminta kapan saja dan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar